Sabtu, 11 Mei 2013

"Mengerti Cinta" P.5


-menjadi orang ketiga itu terkadang adalah sebuah pilihan tepat untuk memiliki, meskipun menyakitkan-
            Dina menyusuri koridor sekolah, ia berniat untuk ke perpustakaan mumpung guru Sejarahnya berhalangan hadir. Dina sendiri kini mencoba untuk tak memusingkan rasa yang hadir di dalam hatinya untuk Bisma itu. Namun terkadang perasaan sakit itu muncul saat ia melihat Bisma tengah bersama dengan Deandra.
            “Badai Pasti Datang.” Eja Dina saat meraih sebuah novel dengan cover bergambar perahu yang diterjang sebuah angin besar itu.
            “Di novel itu banyak banget mengangkat kehidupan sehari-hari anak kuliahan semester akhir. Si penulis menceritakan mengenai kisah cintanya yang bertepuk sebelah tangan, persahabatan yang begitu kuat, organisasi di kampus sampai kejar skripsi dan kondisi bumi pertiwi ini.” Suara serak itu menceritakan bagaimana isi dari novel yang dipegang oleh Dina.
            Dina sendiri menatap wajah pria ini dengan tatapan penuh penasaran. Seserukah itu novel yang diceritakan oleh pria ini. cinta bertepuk sebelah tangan? Bukankah ia juga merasakan hal yang sama saat ini? ia mencintai seseorang yang tak pernah ia tahu bagaimana perasaan orang tersebut padanya.
            “Kok bengong sih?” tanya pria itu dengan senyum tipis.
            “Nggak kok. Ternyata lo suka juga baca novel kak, gue pikir kerjaan lo Cuma belajar, ngedance sama gabung bareng temen-temen lo, dan satu lagi pacaran sama kak Deandra. Hehehe.” Jawab Dina dengan tawa kecilnya. Bisma. Ya, dialah pria yang saat ini berdiri di hadapan Dina, memberikan sedikit sinopsis mengenai novel yang tengah ia genggam.
            “Sayang!” Seseorang datang dan meletakkan kedua tangannya pada bahu pria itu dari belakang.
            “Kamu di sini juga?” Bisma sedikit menoleh untuk melihat wajah gadis yang memanggilnya sayang. Coba lihat wajah Dina, raut sedih juga kecewa tumbuh di sana. Bukan ini yang ia harapkan! Rasa sakit itu selalu saja hadir di saat tidak tepat.
            “Duh, kayanya gue ganggu. Kak, duluan ya.” Dina menyadari dengan canda. Ia berpamitan pada Bisma. “Bye kak Deandra.” Dina tersenyum manis pada gadis yang disebutnya dengan Deandra.
            “Bye, Dina.” Deandra membalas manis kalimat perpisahan sementara dari Dina.
            Bisma sendiri merasakan kehilangan, ia lebih nyaman bersama dengan Dina meskipun hubungannya dengan Deandra sudah memasuki bulan kedua. Janjinya untuk belajar mencintai Deandra rasanya belum bisa ia realisasikan sampai saat ini, karena hatinya saja masih terpaut pada gadis manis yang sudah menjadi tetangganya hampir tiga bulan ini, terlebih dua bulan lebih pula mereka sudah menjalin sebuah pertemanan, membuat Bisma makin sulit untuk menghilangkan perasaan itu.
***
            Dina menempatkan dirinya di tempat duduk yang biasa ia duduki di ruang kelasnya. Steffy memandang heran wajah sahabatnya ini, akhir-akhir ini Steffy merasakan keganjalan dengan sikap sahabatnya itu namun Dina tak pernah menceritakan satu hal pun padanya.
            “Lo lagi ada masalah Din?” Tanya Steffy untuk kesekian kalinya. Dan untuk kesekian kalinya di jawab dengan sebuah gelengan kepala oleh Dina. “Udah deh Din, jujur aja sama gue. Apa susahnya sih jujur, gue tahu lo. Lo nggak mungkin kaya gini kalau misalnya lo nggak ada masalah.” Steffy memojokkan. Ia ingin sahabatnya ini terbuka padanya bukannya malah menutupi hal yang mengganggu fikiran sahabatnya itu.
            “Gue nggak ada masalah kok, Cuma lagi patah hati aja.” Jawab Dina dengan lesu. Ia meletakkan kedua tangannya di atas meja, menyilakannya untuk menjadi sebuah bantal bagi kepalanya.
            “Patah hati?” Steffy berfikir sejenak. Tanggal sembilan. Steffy jadi ingat sesuatu. “Lo patah hati karena hari ini tepat enam bulannya reza sama Pita?” Steffy memastikan. Dina mengangkat kepalanya dan menggeleng kecil. “Terus? Bukannya lo suka sama dia?” Tanya Steffy makin di buat bingung.
            “Stef, pelanin suara lo nanti ada yang denger kalo gue pernah suka sama dia. untung aja orangnya lagi di pojokan sama Dicky.” Keluh Dina kesal karena sahabatnya ini membongkar rahasianya di dalam ruang kelasnya ini. untung saja suasana kelas tengah gaduh. “Gue itu patah hati bukan karena Reza. Tapi karena seseorang yang akhir-akhir ini demen banget muncul di otak sama hati gue. Gue juga nggak tahu kenapa gue bisa suka sama dia, yang pasti saat ini gue patah hati karena dia udah punya cewek dan gue nggak bisa ngilangin perasaan gue.” Lanjut Dina menjelaskan.
            “Terus apa masalahnya kalo dia udah punya cewek. Toh lo sekedar sayang kan sama dia. lagian nggak ada yang salah kok sama perasaan.” Steffy menanggapi. “Tapi ngomong-ngomong siapa orangnya?” Steffy kepo mengenai seorang pria yang beraninya mencuri hati sahabatnya.
            “Suatu saat lo juga tahu. Eh tapi terus gue harus gimana? Gue nggak bisa kaya gini terus Stef, rasanya tuh sakit tahu saat gue ngelihat orang yang gue suka jalan sama cewek lain, gue pengen dia tahu perasaan gue tapi gue juga takut kalau dia malah mikir gue cewek murahan lagi.” Dina jadi di buat bingung sendiri, ia tak mau mengulangi kesalahan yang sama. Yaitu, memendam perasaan tanpa orang yang disayanginya tahu.
            “Ungkapin aja.” Balas Steffy santai.
            “Ungkapin? Kan gue bilang kalau gue ungkapin nanti malah gue di kira cewek murahan, terus mending kalau Cuma itu kalau gue di bilang sebagai cewek perusak hubungan orang gimana?” Tanya Dina takut.
            “Din. Lo itu sekedar ngungkapin, bukan nembak dia. jadi nggak ada yang salah, daripada lo nanti malah terus-terusan sakit hati.” Dina mencerna setiap kata yang keluar dari mulut Steffy. Memang sih, sekedar mengungkapkan, ia juga tak berharap banyak karena Bisma sudah memiliki kekasih. Tapi pada dasarnya, di dalam hatinya yang terdalam ia juga ingin menjadi bagian dari hati Bisma, mengisi hari-hari Bisma dan menjadi bagian orang penting dalam hidup Bisma.
***
            Kata-kata Steffy masih saja terngiang di dalam kepala Dina. Padahal waktu sudah menunjukkan pukul 23.00 WIB, ia belum juga bisa memejamkan matanya, bahkan saat ini matanya tengah asik  memandang bintang yang paling terang, menganggap bintang tersebut adalah ayahnya.
            Jujur, Dina begitu merindukan sosok ayahnya andai saja ayahnya masih ada di sini pasti Dina masih merasakan sebuah kasih sayang seorang Ayah dan tak akan kehilangan waktu bersama dengan ibunya. Ya, semenjak sepeninggalan ayahnya, Desi—Ibu Dina terpaksa mengurus perusahan almarhum sang suami, sehingga setiap bulan terpaksa keluar kota dan hampir setiap hari pulang larut malam. Dan jika semua itu masih normal, pasti saat ini Dina akan menceritakan kegelisahan hatinya pada kedua malaikat yang diciptakan Tuhan untuknya.
            Bisma melihat gadis cantik yang mengisi hatinya itu tengah duduk di balkon kamar gadis itu, saat ia baru saja keluar dari kamarnya. Gadis itu masih saja terlihat cantik meskipun dilihat dari temaram malam ini, wajahnya yang polos selalu saja menghiasi hari-hari Bisma.
            Bisma sendiri meletakkan kedua tangannya pada pembatas sebelah kanan balkon kamarnya, memandang lebih dekat wajah gadis cantik yang entah sejak kapan menjadi pemandangan yang sempurna untuk Bisma, tak ada lagi wajah gadis di luar sana yang bisa membuat Bisma tertarik.
            “Ehem! Malem-malem nggak baik bengong.” Bisma menyadarkan Dina yang masih asik di dalam dunianya.
            Berhasil! Dina langsung menengok ke sumber suara, dan dilihatnya Bisma yang tengah tertawa kecil padanya. “Apaan sih Kak. Orang gue lagi mikirin sesuatu kok.” Balas Dina yang tak berniat sedikitpun untuk bangkit dari duduknya.
            “Masa’ sih? Pasti lagi mikirin gue ya?” terka Bisma asal. Ia hanya ingin membuat suasana terasa hangat dengan canda yang di lemparnya.
            Dina memandang lekat wajah Bisma, ia bangkit dari duduknya dan berjalan pada pembatas bagian kiri, mencoba lebih dekat dengan Bisma. “Iya. Gue emang lagi mikirin lo, kak. Gue lagi mikir kenapa gue bisa jatuh cinta sama lo, sama cowok sedingin dan sekejam lo.” Balas Dina dengan wajah seriusnya namun tetap memberikan sebuah senyum tipis pada Bisma.
            Bisma terdiam. Ia tak tahu, ini sebuah canda atau serius tapi yang pasti kalimat tadi berhasil membuat detak jantung Bisma berdegup lebih kencang dari biasanya, paru-parunya tak bisa mengembang dan mengempis secara beraturan. “Jangan bercanda. Udah sana mending tidur, gue juga udah ngantuk mau tidur.” Bisma memutar tubuhnya, ia takut jika ia menganggap hal ini serius malah membuatnya sakit. Bisma melangkah mendekati pintu kamarnya, “Gue serius Kak, tapi terserah lo. Lo mau percaya atau nggak sama gue. Yang pasti gue Cuma mau jujur sama lo tanpa gue harus ngerusak hubungan lo dengan kak Deandra.” Lanjut Dina yang pada akhirnya meninggalkan balkon kamarnya dan membiarkan Bisma masih mematung di tempatnya berdiri.
            Dina mencoba mengatur nafasnya, ia tak tahu dari mana keberanian itu datang. Dulu saat ia mencintai Reza, ia tak pernah seberani ini, dan dulu saat ia mencintai Reza tak pernah ada desah nafas yang tak beraturan begitu juga dengan detak jantungnya yang bekerja tidak normal itu.
***
            Dina meraba sekitar bantal yang menjadi sandaran kepalanya, saat dering handphone itu mengusik Dina dari mimpi yang tak ia ingat sama sekali. “Halo!” sapa Dina dengan suara seraknya, saat ia berhasil menemukan handphonenya dan mengangkat telfon yang masuk ke dalam handphonenya.
            “Lihat ke jendela samping, gue mohon.” Pinta seseorang di sebrang sana, Dina langsung bangkit dari tidurnya saat mendengar suara pria di sebrang sana melihat nama yang tertera di layar handphonenya.
            “Bodoh! Kenapa gue nggak sadar kalau Kak Bisma yang nelfon.” Dina merutuki dirinya sendiri dengan mulut yang mengucap namun tak bersuara.
            “Dina.” Panggil pria di sebrang sana yang tak lain adalah Bisma.
            “Eh iya Kak.” Dina langsung melompat dari tempat tidurnya, membuka tirai yang menutup jendela kamarnya, dan di sebrang sana, ia melihat seorang pria yang tengah menyembunyikan kedua tangannya di balik tubuhnya, dengan kedua headset yang tertempel manis di kedua telinganya.
            Pria itu memberikan sebuah senyum manisnya pada Dina, dan kemudian mengeluarkan kedua tangannya yang sudah dilengkapi dengan kertas HVS yang sudah dihias dengan sebuah tinta berwarna hitam.
            AKU NGGAK TAHU
Bisma membuang HVS bertuliskan klausa tersebut dan menunjukkan klausa-klausa lainnya.
            KENAPA KAMU BISA
PUNYA RASA YANG
SAMA SEPERTI AKU
YANG PUNYA RASA LEBIH SAMA KAMU
AKU
NGGAK PERNAH TAHU
KAPAN RASA ITU MUNCUL
DAN AKU JUGA
NGGAK PERNAH TAHU
KAPAN RASA ITU
BISA HILANG
MESKIPUN
AKU SUDAH SAMA DEANDRA
TAPI
SAMPAI SAAT INI
HATI AKU MASIH ADA DI KAMU
AKU SAYANG KAMU, DINA <3 o:p="">
Dina terdiam dari tempatnya, masih tak percaya dengan runtutan klausa yang ditulis oleh Bisma menjadi sebuah kalimat tadi. Rasa senang mendominasi hatinya karena cintanya yang tak bertepuk sebelah tangan.
            “Maaf, karena dari awal gue nggak pernah jujur Din sama lo.” Suara Bisma membuat kepala Dina menggeleng kecil.
            “Nggak masalah Kak, gue tahu kok. Gengsi lo gede kan?” Balas Dina dengan candanya, mencoba mencairkan suasana.
            “Iya, saking gedenya gue selalu buat lo marah.” Senyum miris terlihat jelas dari mata Dina.
            “Apaan sih kak, lebay deh lo. Udah lah, lupain aja. Lagian kita kan udah tahu perasaan masing-masing, nggak usah di ungkit-ungkit lah masa lalu. Jalanin aja apa yang ada di depan kita.” Balas Dina memberikan senyumnya, senyum yang menyejukkan hati Dina.
            “Yaudah, kalau gitu. Kita tata masa depan kita berdua yah. Hahaha.” Balas Bisma yang sudah bisa bersatu dengan suasana yang diciptakan Dina. “Sekarang lo tidur gih, udah jam dua. Maaf ya, bikin tidur lo keganggu. Hehehe.”
            “Tahu nih! Payah lah! Ngakunya mah sayang tapi malah ganggu tidur gue.” Balas Dina menjulurkan lidahnya. Terdengar tawa Bisma di sebrang sana. “Yaudah, lo tidur juga ya Kak. Kasihan tuh mata lo udah makin nggak kelihatan kalau lagi ketawa.”
            “Apa urusannya? Lagian lo juga nyadar diri kek, senyum aja mata lo udah nggak kelihatan apa lagi kalau ketawa.” Bisma tak mau kalah.
            “Hahahan ampun atuh pak es cool.” Dina bergaya seolah meminta ampun, membuat Bisma bertingkah seolah menjadi seorang ayah yang memarahi anaknya.
            “Udah-udah, jadi keterusan. Good night, Din.” Bisma memberikan sebuah kiss bye pada Dina dari kamarnya sana.
            Dina pun menerimanya dengan senang hati, meletakkan tangan kanannya di atas dadanya dan tersenyum manis pada Bisma. “Good night Pak es cool.” Balas Dina yang kemudina memutuskan sambungannya. Dina tersenyum sebelum menutup tirai jendelanya, Bisma melakukan hal yang sama dari kamarnya sana.
            “Gue nggak tahu, gue udah sepenuhnya milikin dia atau belum. Tapi gue ngerasa gue jadi orang ketiga dalam hubungan mereka, gue juga ngerasa milikin kak Bisma meskipun nggak sepenuhnya dan meskipun gue juga tahu, ini akan berakhir dengan saling nyakitin.” Gumam Dina saat ia memejamkan matanya.

2 komentar:

  1. yeay,, mampir lagi wkwks
    paling suka part 5, akhirnya saling terbuka :)
    so sweet juga yg dibalkon pake kertas gitu :D

    BalasHapus
  2. sering-sering mampir ya. hahhaha :p

    BalasHapus